Senin, 29 Maret 2021

Ekowisata air terjun silima lima

 

Paper Bisnis Kehutanan                                                                 Medan,      Maret   2021

 

EKOWISATA AIR TERJUN SILIMA LIMA DESA MARANCAR KABUPATEN TAANULI SELATAN

 

Dosen Pengajar:

Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si

 

Disusun Oleh :

                                                   Dody Anugrah Siregar                                

       (181201020)

            

MNH6

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

program studi KEHUTANAN

fakultas KEHUTANAN

universitas sumatera utara

medan

2021


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan paper bisnis kehutanan yang berjudul “Ekowisata Air terjun silima lima. Maklah ini disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah bisnis kehutanan, Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.

Dalam penyelesaian Paper  ini, penulis mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak. Oleh sebab itu, penulis m
engucapkan terima kasih kepada
Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si
. selaku dosen pengajar mata kuliah Bisnis Kehutanan, yang telah mengajarkan materi dengan baik sehingga membantu penulis dalam menyelesaikan tugas ini, yang hasilnya kemudian dipaparkan dalam makalah ini.

Penulis sadar bahwa penulisan makalah ini masih memiliki kesalahan-kesalahan, baik itu dalam segi teknik maupun dalam bahasa. Oleh sebab itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca demi menyempurnakan makalah ini. Akhir kata, penulis berharap semoga bermanfaat bagi kita semua. Terima kasih.

                                                                                      

 

Medan,   Maret 2021

 

                                                                                    Penulis

 


DAFTAR  ISI

         Halaman 

KATA PENGANTAR.......................................................................................... i

DAFTAR ISI ........................................................................................................  ii

 

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang................................................................................................. 1

1.2. Rumusan masalah............................................................................................ 2

1.3. Tujuan Masalah................................................................................................ 2

 

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengetian ekowisata......................................................................................... 3

2.2 lokasi air terjun silima lima.............................................................................. 4

2.3  daya tarik air terjun silima lima....................................................................... 4

2.4kegiatan yang dilakukan di air terjun silima lima ............................................ 5

                                                                                                                                   

BAB III PENUTUP

 Kesimpulan............................................................................................................. 6

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

            Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam pengembangan ekowisata kawasan hutan tropika yang tersebar di kepulauan yang sangat menjanjikan untuk ekowisata dan wisata khusus. Kawasan hutan yang dapat berfungsi sebagai kawasan wisata yang berbasis lingkungan adalah kawasan Pelestarian Alam (Taman Nasional, Taman Hutan Raya, Taman Wisata Alam), kawasan suaka Alam (Suaka Margasatwa) dan Hutan Lindung melalui kegiatan wisata alam terbatas, serta Hutan Produksi yang berfungsi sebagai Wana Wisata Kawasan konservasi baik kawasan pelestarian alam maupun kawasan suaka alam atau kawasan hutan lindung, merupakan destinasi yang diminati oleh wisatawan ekotour, karena memiliki keanekaragaman flora dan fauna, fenomena alam yang indah, objek budaya dan sejarah serta kehidupan masyarakat lokal yang unik. Keseluruhan objek daya tarik wisata ini merupakan sumberdaya yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi sekaligus sebagai sarana pendidikan dan pelestarian lingkungan. Pemanfaatan sumberdaya alam dan lingkungannya serta kepedulian pada masyarakat sekitar pada kawasan-kawasan konservasi sejalan dengan visi pengembangan ekowisata yaitu konservasi keanekaragaman hayati dan ekosistemnya serta pemberdayaan masyarakat lokal (Alamsyah, 2013).

            wisata alam adalah bentuk kegiatan yang memanfaatkan potensi sumber daya alam dan tata lingkungan. Undang-undang No. 9 Tahun 1990 menyatakan Objek wisata alam adalah sumber daya alam yang berpotensi serta memiliki daya tarik bagi pengunjung baik dalam keadaan alami maupun setelah ada usaha budidaya. Potensi yang termasuk sebagai objek wisata alam adalah flora dan fauna, keunikan dan kekhasan ekosistem, gejala alam, dan budidaya sumber daya alam Pengelolaan yang tepat pada kawasan tersebut dapat memberikan kontribusi baik pada pendapatan daerah maupun pendapatan masyarakat sekitar. Ketidaktahuan akan nilai suatu kawasan berdampak pada kebijakan yang akan dikeluarkan pada kawasan tersebut (Arniwati,2017)

            Indonesia memiliki wilayah yang sangat luas dengan didukung sumber daya alam yang beraneka ragam yang berpotensi untuk diolah dan dimanfaatkan. Selain itu negara Indonesia juga kaya akan seni budaya daerah, adat istiadat, peninggalan sejarah terdahulu dan yang tidak kalah menarik adalah keindahan panorama alamnya yang cukup potensial untuk dikembangkan dengan baik. Ternyata pariwisata dapat diandalkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan nasional. Banyak juga objek wisata yang ada di Indonesia yang telah terkenal tidak hanya di dalam negeri maupun ke luar negeri. Oleh sebab itu pengembangan pariwisata di Indonesia dilakukan oleh seluruh wilayah di Indonesia maka dibentuklah Departemen Kebudayaan dan Pariwisata di tingkat nasional dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Daerah di tingkat daerah (Syefira,2013)

Ekowisata sebagai konsep pariwisata berkelanjutan dan berwawasan lingkungan memiliki karakteristik yang berbeda dibanding dengan obyek pariwisata lainnya, yaitu : wisata yang bertanggung jawab pada konservasi lingkungan; wisata yang berperan dalam usaha–usaha pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal; dan wisata yang menghargai budaya lokal. Konsep ekowisata lebih dikembangkan lagi dengan konsep ekowisata berbasis masyarakat atau Community Based Ecotourism (CBE). Pengembangan ekowisata–CBE di Kota Batu akan memiliki multiplier effect yang sangat luas terutama dalam upaya mempertahankan kondisi lingkungan (sisi ekologis). (Muhammad et al,2013)

1.2 Rumusan Masalah

1.      Apa itu Ekowisata Ekowisata ?

2.      Dimama Lokasi Air Terjun Silima lima ?

3.      Apa daya tarik Air Terjun Silima lima ?

4.      Kegiatan apa saya yang bisa dilakukan di air terjun silima lima?

1.3 Tujuan

Adapun Tujuan dari Paper ini Adalah

1.      Untuk Mengetahui Pengertian Ekowisata

2.      Untuk Mengetahui  Lokasi Air Terjun Silima lima

3.      Untuk Mengetahui daya tarik Air Terjun Silima lima

4.      Untuk Mengetahui kegiatan yang di lakukan di air terjun silima lima

BAB II

ISI

 

2.1 Pengertian Ekowisata.

             Ekowisata adalah kegiatan wisata yang bertanggung jawab terhadap alam, memberdayakan masyarakat, meningkatkan kesadaran lingkungan. Ia bukan sekedar wisata alam semata. Konsep ekowisata memiliki pengertian, sejarah, kriteria atau prinsip tersendiri dibandingkan wisata konvensional.Ekowisata adalah perjalanan yang bertanggung jawab ke daerah-daerah alami yang melestarikan lingkungan, menopang kesejahteraan masyarakat setempat, melibatkan interpretasi serta pendidikan lingkungan hidup. Konsep ekowisata mencoba memadukan tiga komponen penting yaitu konservasi alam, memberdayakan masyarakat lokal, meningkatkan kesadaran lingkungan hidup. Hal ini ditujukan tidak hanya bagi pengunjung, tetapi melibatkan masyarakat setempat. ontoh ekowisata berbasis lingkungan yang sudah berhasil adalah kegiatan di tangkahan di Langkat Provinsi Sumatera Utara. Beberapa tempat wisata di Medan Sumatera Utara juga merupakan inisiasi dari kegiatan ekoturisme. Contoh lainnya adalah taman safari di Zimbabwe atau Taman Nasional Komodo. Tidak banyak contoh ekowisata yang berhasil memenuhi prinsip dan kriteria sebagaimana ditetapkan, walau diklaim sebagai ekoturisme

2.1 Lokasi Air terjun Silima lima

            Air terjun Silima-Lima ini terletak di Desa Simaninggir, Kecamatan Marancar, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara. Secara geografis tempat ini dibentengi oleh dua gunung, yakni Gunung Sibual-Buali dan Gunung Lubuk Raya.Tempatnya sendiri berada di atas ketinggian kurang lebih 1.000 meter di atas permukaan laut. Jika ingin berkunjung ke lokasi ini, kita membutuhkan waktu satu jam menggunakan sepeda motor dari kota Padangsidimpuan. Lalu dari desa ini, kita harus berjalan kaki lagi yang memakan waktu sekira 15 menit untuk tiba di lokasi wisata itu

Menuju Silima-Lima, kita harus melewati persawahan, kebun salak, lalu perkebunan karet milik warga. Dan saat ini sudah dibangun jalan aspal oleh Pemerintah Daerah Tapsel, sehingga berjalan kaki ke titik pusat lokasi wisata Silima-Lima tinggal memakan waktu sekitar 15 menit dari parkir kenderaan

 

2.2 Daya Tarik Air Terjun Silima lima

Perjalanan kurang lebih satu jam akan terbayar lunas dengan kompilasi air terjun Silima-Lima sudah tergantung di depan mata. Memberikan sebuah pemandangan yang sangat luar biasa.. Ketinggiaannya kurang lebih 100 meter, air jernih dan bersih yang jatuh ke dasar membuat kita terkagum-kagum. Sungguh indahnya ciptaan Yang Maha Kuasa ini. Belum lagi kita menikmati udara sejuk dan segar, sehingga membuat pernapasan kita sangat lega dibanding menghirup udara kota. Air nya yang jernih serta pemandangan alam yang indah membuat air terjun silima lima menjadi salah satu primadona di kalangan pencinta Alam.

 Jika hendak menuju air terjun tersebut, kita di suguh kan dengan traking melalui +_1000 anak tangga. Di sepanjang perjalanan, mata pengunjung akan dimanjakan oleh panorama vegetasi tumbuhan yang didominasi warna hijau. Meskipun harus turun menapaki ribuan anak tangga, perjalanan menuju dasar tak akan terasa karena keindahan alam dan udara sejuk di sekelilingnya.

Selain dari pemandangan yang indah, Masyarakat yang tinggal di kawasan air terjun silima lima terkenal dengan ramah tamah dan murah senyum. Hal ini tentunya menjadi salah satu alasan para pengunjung merasa nyaman dan akrab dengan masyarakat sekitar.

 

2.4 kegiatan yang di lakukan di air terjun silima lima

 

Bagi para traveler yang berkunjung ke lokasi wisata Air Terjun Silima-Lima, maka di sana terdapat beberapa ragam aktivitas yang dapat dinikmati. Diantaranya :

1. Bermain Air

Aktivitas yang pertama adalah bermain air. disarankan bermain air di titik yang arusnya tidak deras, serta jangan di lokasi palung utama.

Bermain Air Di Air Terjun Silima Lima. Google Maps. Sumber

2. Flying Fox

Di lokasi wisata Air Terjun Silima-Lima terdapat wahana Flying Fox yang bisa dinikmati oleh para pengunjung. Menikmati keindahan sambil terbang di atas ketinggian memang memerlukan nyali yang tinggi., sebanding dengan viw yang akan dinikmati.

3. Hunting Foto

Terdapat banyak sekali spot yang sangat instagramable di lokasi wisata Air Terjun Silima-Lima. Hunting foto bisa dilakukan di atas rumah pohon, atau di jalur trekking, batu jodoh, dan tentu saja di lokasi utama Air Terjun Silima-Lima.

 

BAB III

KESIMPULAN

 

Di wisata Alam air terjun silima lima pengunjung akan di suguhkan dengan panorama alam yang indah dipadukan dengan vegetasi yang dominan warna hijau memberikan sejukan bagi para penikmatnya,selain itu masyarakat terkenal dengan ramah dan murah senyum memberikan kesan hangat dan kejeluargaan bagi para pengunjung.

 

DAFTAR PUSTAKA

Arniawati, A., Kasim, S., & Anshar, R. (2017). Analisis Jasa Lingkungan Ekowisata Air Terjun Lahundape di Kawasan Tahura Nipa-Nipa. Jurnal Ecogreen3(1), 27-31.

Flamin, A., & Asnaryati, A. (2013). Potensi Ekowisata dan Strategi Pengembangan Tahura Nipa-Nipa, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea2(2), 154-168.

Primadany, S. R. (2013). Analisis strategi pengembangan pariwisata daerah (studi pada dinas kebudayaan dan pariwisata daerah kabupaten nganjuk). Jurnal Administrasi Publik1(4), 135-143.

 

https://www.travelingmedan.com/2020/03/air-terjun-silima-lima.html

https://www.nativeindonesia.com/air-terjun-silima-lima/

https://travel.okezone.com/read/2019/02/28/406/2024226/pesona-air-terjun-silima-lima-marancar-yang-menggugah-hati

 

Jumat, 08 Mei 2020


TINJAUAN PUSTAKA
Sawah adalah tanah yang digarap dan diairi untuk tempat menanam padi. Untuk keperluan ini, sawah harus mampu menyangga genangan air karena padi memerlukan penggenangan pada periode tertentu dalam pertumbuhannya. Untuk mengairi sawah digunakan sistem irigasi dari mata airsungai atau air hujan. Sawah yang terakhir dikenal sebagai sawah tadah hujan, sementara yang lainnya adalah sawah irigasi. Padi yang ditanam di sawah dikenal sebagai padi lahan basah (lowland rice).Padi adalah tanaman unik karena mampu tumbuh di dalam kondisi hidrologi, jenis tanah, iklim yang berbeda, dan satu satunya tanaman serealia yang tumbuh di lahan basah. Ancaman serius yang dihadapi budidaya padi adalah semakin menurunnya ketersediaan air.
Bahan pangan terutama beras sebagian besar diproduksi di lahan sawah beririgasi teknis dengan tingkat kesuburan tanah cukup tinggi. Karakteristik budi daya padi sawah seperti itu membatasi peluang peningkatan produksi beras melalui perluasan areal sawah, karena sempitnya lahan cadangan yang sesuai untuk dijadikan sawah dan makin ketatnya persaingan penggunaan air dengan industri, pertambangan, rumah tangga, dan lainnya. Di sisi lain, konversi lahan sawah ke nonpertanian makin sulit dikendalikan. Selama periode 1979−1999, konversi lahan sawah mencapai 1,63 juta ha, dan satu juta ha di antaranya terjadi di Pulau JawaOleh karena itu, perlu upaya lain untuk meningkatkan produksi bahan pangan nasional, salah satunya adalah dengan mengoptimalkan pemanfaatan lahan kering, baik yang telah menjadi lahan pertanian maupun yang belum digunakan. Pemanfaatan lahan kering untuk pertanian sering diabaikan oleh para pengambil kebijakan, yang lebih tertarik pada peningkatan produksi beras pada lahan sawah. Hal ini mungkin karena ada anggapan bahwa meningkatkan produksi padi sawah lebih mudah dan lebih menjanjikan dibanding padi gogo yang memiliki risiko kegagalan lebih tinggi. Padahal lahan kering tersedia cukup luas dan berpotensi untuk menghasilkan padi gogo > 5 t/ha (Abdulrachman dkk,2008)
Upaya perakitan varietas padi di Indonesia ditujukan untuk menciptakan varietas yang berdaya hasil tinggi dan sesuai dengan kondisi ekosistem, sosial, budaya, serta minat masyarakat. Sejalan dengan berkembangnya kondisi sosial ekonomi masyarakat, permintaan akan tipe varietas yang dihasilkan juga berbeda-beda Pembentukan varietas padi dilakukan dengan menyilangkan beberapa tetua, kemudian dari turunan persilangan tersebut dipilih tanaman-tanaman yang mempunyai sifat-sifat yang baik. Persilangan umumnya dilakukan dengan silang tunggal (single cross), silang puncak (top cross), silang ganda (double cross), dan silang balik (back cross). Metode pemuliaan yang digunakan di Indonesia sampai dengan tahun 1950-an adalah metode bulk, kemudian beralih kepada metode pedigree (Susanto et al, 2003)
Padi sawah termasuk jenis tanaman pangan yang rentan terhadap perubahan iklim dan penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca (GRK) di bidang pertanian. Tanpa olah tanah (TOT) merupakan salah satu teknologi yang prospektif dikembangkan untuk mengatasi beberapa kelemahan OTS dan menurunkan GRK dalam pascarevolusi hijau. TOT dikenal sebagai teknologi olah tanah konservasi (OTK) (conservation tillage) dan makin populer di negaranegara maju, terutama Amerika Serikat, karena memiliki beberapa keuntungan, antara lain mencegah erosi, mempertahankan keanekaragaman biologi, menekan populasi beberapa jenis gulma dan hama invertebrata, memperbaiki efisiensi penggunaan pupuk, dan meningkatkan intensitas tanam dan pendapatan (Zainal,2011)
Olah tanah sempurnah (OTS) merupakan komponen teknologi anjuran dalam program intensifikasi produksi padi sawah. OTS lebih memudahkan petani dalam melakukan tanam pindah karena tanah lembek berlumpur, mudah meratakan lahan, mudah mengendalikan gulma, mengurangi biaya menyiangi, resiko gagal tanam rendah, tanaman padi tumbuh optimal, dan produksi tinggi. Dibalik berbagai kemudahan tersebut, pelumpuran dalam OTS secara terus-menerus dapat merusak struktur tanah, pori tanah terputus/tertutup, dan laju infiltrasi melambat. Lapisan tanah teratas yang subur mudah mengalami erosi dan hanyut terbawa air irigasi maupun hujan. Lebih lanjut, OTS yang diikuti dengan praktik membakar sisa tanaman dan tanpa tambahan pupuk organik, menyebabkan menurunnya kesuburan tanah. Dampak jangka pajang berupa terjadinya penurunan produktivitas padi sawah, walaupun takaran pupuk anorganik semakin tinggi. Untuk menjaga kelestarian lahan, alternatif dari OTS adalah olah tanah minimum (OTM) atau tanpa olah tanah (TOT). Kedua metode tersebut biasanya dipraktekkan di lahan tadah hujan di NTB dalam sistem budidaya padi gogo rancah. Berdasarkan berbagai hasil penelitian yang telah dilakukan, penerapan OTM dan TOT yang benar dilaporkan dapat mempertahankan hasil seperti OTS, mengurangi biaya produksi, mengurunkan tingkat erosi dan berbagai bentuk degradasi lahan lainnya, yang kesemuanya menguntungkan bagi sumber daya alam yang lestar (hadiawati,2009)
Nitrogen (N) merupakan unsur hara yang paling penting. Kebutuhan tanaman akan N lebih tinggi dibandingkan dengan unsur hara lainnya, selain itu N merupakan faktor pembatas bagi produktivitas tanaman. Kekurangan N akan menyebabkan tumbuhan tidak tumbuh secara optimum, sedangkan kelebihan N selain menghambat pertumbuhan tanaman juga akan menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan. Pupuk N dalam bentuk urea sudah menjadi kebutuhan pokok bagi petani padi khususnya di Indonesia karena dianggap dapat langsung meningkatkan produktivitas sehingga pemborosan dalam pemakaian urea di petani tidak dapat dihindar Dosis pemberian pupuk yang cukup tinggi di petani saat ini ada yang mencapai 400−600 kg urea/ha di atas rekomendasi pemerintah sebesar 200–260 kg urea/ha (Triadiati et al, 2012)
















METODE PRAKTIKUM
A.Waktu dan Tempat
Praktikum ini di laksanakan pada hari minggu, 3 Mei 2020 di Saba rapak Lingkungan.1,kelurahan Panyanggar, Kecematan Padang Sidimpuan Utara, Kota Padang Sidimpuan
B.Alat dan Bahan
            Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini adalah cangkul, babat, parang dan jetor.
            Adapun bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah pupuk Urea, Zat A, ,TSP dan ZK
C. Cara Kerja
1.Pengelolaan tanah
Tata cara penglolaan tanah sawah padi adalah sbb:
1.      Areal sawah di genang dengan air agar tanahnya menjadi lunak
2.      Setelah tergenang menaburkan pupuk kandang sebagai pupuk awal/membuat kolam ikan sederhana di areal sawah yang tergenang
3.      Setelah 1 bulan. Dibuang air genangan, kemudian di bajak menggunakan mesin jetor agar tanah tidak padat sehingga padi mudah tumbuh
4.      Setelah di bajak di bentuk rumpum berbentuk segi empat di seluruh areal sawah untuk media penanaman padi
2.Penanaman
            Sebelum melakukan penanaman langkah terlebih dahulu adalah menyiapkan benih dengan cara :
1.      Memilih bibit yang unggul dan sehat
2.      Kemudian di maskkan bibt ke persemaian
3.      Setelah setekah menjadi semuai kemudian barulah melakukan penanaman
penanaman di lakukan dengan menannam langsung ke areal yakni jangan tanam bibit terlalu dalam agar pertumbuhannya optimal. Penanam di lakukan sejajar dengan jarak tanam 20-25 X 20-25.
3.Pemeliharaan
A.pengairan/irigasi.
Air merupakan syarat mutlak bagi pertumbuhan tanaman padi sawah. Masalah pengairan bagi tanaman padi sawah merupakan salah satu factor penting yang harus mendapat perhatian penuh demi mendapat hasil panen yang akan datang.
Air yang dipergunakan untuk pengairan padi di sawah adalah air yang berasal dari sungai, sebab air sungai banyak mengandung lumpur dan kotoran-kotoran yang sangat berguna untuk menambah kesuburan tanah dan tanaman. Air yang berasal dari mata air kurang baik untuk pengairan sawah, sebab air itu jernih, tidak mengandung lumpur dan kotoran.
Memasukan air kedalam sawah dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
  • Air yang dimasukan ke petakan-petakan sawah adalah air yang berasal dari saluran sekunder. Air dimasukan ke petakan sawah melalui saluran pemasukan, dengan menghentikan lebih dahulu air pada saluran sekunder.
  • Untuk menjaga agar genangan air didalam petakan sawah itu tetap, jangan lupa dibuat pula lubang pembuangan. Lubang pemasukan dan lubang pembuangan tidak boleh dibuat lurus.
  • Hal ini dimaksudkan agar ada pengendapan lumpur dan kotoran-kotoran yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman. Apabila lubang pemasukan dan lubang pembuangan itu dibuat lurus, maka air akan terus mengalir tanpa adanya pengendapan.
Pada waktu mengairi tanaman padi di sawah, dalamnya air harus diperhatikan dan disesuaikan dengan umur tanaman tersebut. Kedalaman air hendaknya diatur dengan cara sebagai berikut :
  • Tanaman yang berumur 0-8 hari dalamnya air cukup 5 cm.
  • Tanaman yang berumur 8-45 hari dalamnya air dapat ditambah hingga 10-20 cm.
  • Tanaman padi yang sudah membentuk bulir dan mulai menguning dalamnya air dapat ditambah hingga 25 cm. setelah itu dikurangi sedikit demi sedikit.
  • Sepuluh hari sebelum panen sawah dikeringkan sama sekali. Agar padi dapat masak bersama-sama.
B. Penyiangan dan Penyulaman
Setelah penanaman, Apabila tanaman padi ada yang mati harus segera diganti (disulam). Tanaman sulam itu dapat menyamai yang lain, apabila penggantian bibit baru jangan sampai lewat 10 hari sesudah tanam.
Selain penyulaman yang perlu dilakukan adalah penyiangan agar rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar tanaman padi tidak bertumbuh banyak dan mengambil zat-zat makanan yang dibutuhkan tanaman padi. Penyiangan dilakukan dua kali yang pertama setelah padi berumur 3 minggu dan yang kedua setelah padi berumur 6 minggu. Penyianagan di lakukan dengan membabat rumput liat/gulma dengan parang/babat
C Pemupukan
Pemupukan bertujuan untuk menambah zat-zat dan unsur-unsur makanan yang dibutuhkan oleh tanaman di dalam tanah. Untuk tanaman padi, pupuk yang digunakan antara lain:
  • Pupuk alam, sebagai pupuk dasar yang diberikan 7-10 hari sebelum tanaman dapat digunakan pupuk-pupuk alam, misalnya: pupuk hijau, pupuk kandang, dan kompos. Banyaknya kira-kira 10 ton / ha.
  • Pupuk buatan diberikan sesudah tanam, misalnya: ZA/Urea, DS/TS, dan ZK. Adapun manfaat pupuk tersebut sebagai berikut:
  • ZA/Urea : menyuburkan tanah, mempercepat tumbuhnya anakan, mempercepat tumbuhnya tanaman, dan menambah besarnya gabah.
  • DS/TS : mempercepat tumbuhnya tanaman, merangsang pembungaan dan pembentukan buah, mempercepat panen.
  • ZK : memberikan ketahanan tanaman terhadap hama / penyakit, dan mempercepat pembuatan zat pati.

D.Pengendalian Hama Dan Penyakit
Hama di Persemaian Basah (untuk padi sawah)
Hama putih (Nymphula depunctalis)
Gejala : menyerang daun bibit, kerusakan berupa titik-titik yang memanjang sejajar tulang daun, ulat menggulung daun padi.
Pengendalian
  • Pengaturan air yang baik, penggunaan bibit sehat, melepaskan musuh alami, menggugurkan tabung daun;
  • Penyemprotan insektisida Kiltop 50 EC atau Tomafur 3G.
Padi trip (Trips oryzae)
  • Gejala : daun menggulung dan berwarna kuning sampai kemerahan, pertumbuhan bibit terhambat, pada tanaman dewasa gabah tidak berisi.
  • Pengendalian : insektisida Mipein 50 WP atau Dharmacin 50 WP.
Ulat tentara (Pseudaletia unipuncta, berwarna abu-abu; Spodoptera litura, berwarna coklat hitam; S. exempta, bergaris kuning)
  • Gejala : ulat memakan helai daun, tanaman hanya tinggal tulang-tulang daun.
  • Pengendalian: cara mekanis dan insektisida Sevin, Diazenon, Sumithion dan Agrocide.
Hama di Sawah
Wereng
Wereng penyerang batang padi : wereng padi coklat (Nilaparvata lugens), wereng padi berpunggung putih (Sogatella furcifera).
  • Merusak dengan cara mengisap cairan batang padi. Saat ini hama wereng paling ditakuti oleh petani di Indonesia. Wereng ini dapat menularkan virus.
Gejala : tanaman padi menjadi kuning dan mengering, sekelompok tnaman seperti terbakar, tanaman yang tidak mengering menjadi kerdil.
Pengendalian
  • Bertanam padi serempak, menggunakan varitas tahan wereng seperti IR 36, IR 48, IR 64, Cimanuk, Progo dsb, membersihkan lingkungan, melepas musuh alami seperti laba-laba, kepinding dan kumbang lebah.
  • Penyemportan insektisida Applaud 10 WP, Applaud 400 FW atau Applaud 100 EC.
Walang sangit (Leptocoriza acuta)
Menyerang buah padi yang masak susu.
Gejala : dan menyebabkan buah hampa atau berkualitas rendah seperti berkerut, berwarna coklat dan tidak enak; pada daun terdapat bercak bekas isapan dan buah padi berbintik-bintik hitam.
Pengendalian
  • Bertanam serempak, peningkatan kebersihan, mengumpulkan dan memunahkan telur, melepas musuh alami seperti jangkrik;
  • Menyemprotkan insektisida Bassa 50 EC, Dharmabas 500 EC, Dharmacin 50 WP, Kiltop 50 EC.
Kepik hijau (Nezara viridula)
Menyerang batang dan buah padi.
  • Gejala : pada batang tanaman terdapat bekas tusukan, buah padi yang diserang memiliki noda bekas isapan dan pertumbuhan tanaman terganggu.
  • Pengendalian : mengumpulkan dan memusnahkan telurtelurnya, penyemprotan insektisida Curacron 250 ULV, Dimilin 25 WP, Larvin 75 WP.
Hama tikus (Rattus argentiventer)
Tanaman padi akan mengalami kerusakan parah apabila terserang oleh hama tikus dan menyebabkan penurunan produksi padi yang cukup besar. Menyerang batang muda (1-2 bulan) dan buah.
  • Gejala : adanya tanaman padi yang roboh pada petak sawah dan pada serangan hebat ditengah petak tidak ada tanaman.
  • Pengendalian: pergiliran tanaman, sanitasi, gropyokan, melepas musuh alami seperti ular dan burung hantu, penggunaan pestisida dengan tepat, intensif dan teratur, memberikan umpan beracun seperti seng fosfat yang dicampur dengan jagung atau beras.
Burung
Burung (Silopak,sikodit,silesetdan burung gereja).
  • Menyerang padi menjelang panen, tangkai buah patah, biji berserakan.
  • Pengendalian: mengusir dengan bunyi-bunyian atau orang-orangan.
Pengendalian Penyakit
Bercak daun coklat
Penyebab: jamur (Helmintosporium oryzae).
Gejala: menyerang pelepah, malai, buah yang baru tumbuh dan bibit yang baru berkecambah. Biji berbercak-bercak coklat tetapi tetap berisi, padi dewasa busuk kering, biji kecambah busuk dan kecambah mati.
Pengendalian:
  • Merendam benih di dalam air panas, pemupukan berimbang, menanam padi tahan penyakit ini, menaburkan serbuk air raksa dan bubuk kapur (2:15);
  • Dengan insektisida Rabcide 50 WP.
Blast
Penyebab: jamur Pyricularia oryzae.
Gejala: menyerang daun, buku pada malai dan ujung tangkai malai. Serangan menyebabakn daun, gelang buku, tangkai malai dan cabang di dekat pangkal malai membusuk. Proses pemasakan makanan terhambat dan butiran padi menjadi hampa.
Pengendalian:
  • Membakar sisa jerami, menggenangi sawah, menanam varitas unggul Sentani, Cimandirim IR 48, IR 36, pemberian pupuk N di saaat pertengahan fase vegetatif dan fase pembentukan bulir;
  • Menyemprotkan insektisida Fujiwan 400 EC, Fongorene 50 WP, Kasumin 20 AS atau Rabcide 50 WP.
Penyakit garis coklat daun (Narrow brown leaf spot,)
Penyebab: jamur Cercospora oryzae.
Gejala: menyerang daun dan pelepah. Tampak gari-garis atau bercak-bercak sempit memanjang berwarna coklat sepanjang 2-10 mm. Proses pembungaan dan pengisian biji terhambat.
Pengendalian:
  • Menanam padi tahan penyakit ini seperti Citarum, mencelupkan benih ke dalam larutan merkuri;
  • Menyemprotkan fungisida Benlate T 20/20 WP atau Delsene MX 200.
Busuk pelepah daun
Penyebab: jamur Rhizoctonia sp.
Gejala: menyerang daun dan pelepah daun, gejala terlihat pada tanaman yang telah membentuk anakan dan menyebabkan jumlah dan mutu gabah menurun. Penyakit ini tidak terlalu merugikan secara ekonomi.
Pengendalian:
  • Menanam padi tahan penyakit ini;
  • Menyemprotkan fungisida pada saat pembentukan anakan seperti Monceren 25 WP dan Validacin 3 AS.
Penyakit fusarium
Penyebab: jamur Fusarium moniliforme.
Gejala: menyerang malai dan biji muda, malai dan biji menjadi kecoklatan hingga coklat ulat, daun terkulai, akar membusuk, tanaman padi. Kerusakan yang diderita tidak terlalu parah.
Pengendalian: merenggangkan jarak tanam, mencelupkan benih pada larutan merkuri.
4. Pemanenan
            Lakukan panen saat gabah telah menguning, tetapi malai masih segar. Potong padi dengan sabit gerigi, 30-40 cm di atas permukaan tanah. Gunakan plastik atau terpal sebagai alas tanaman padi yang baru dipotong dan ditumpuk sebelum dirontok. Sebaiknya panen padi dilakukan oleh kelompok pemanen dan gabah dirontokan dengan power tresher atau pedal tresher. Apabila panen dilakukan pada waktu pagi hari sebaiknya pada sore harinya langsung dirontokan. Perontokan lebih dari 2 hari menyebabkan kerusakan beras.
5. Pasca panen
            Jemur gabah di atas lantai jemur dengan ketebalan 5-7 cm. Lakukan pembalikan setiap 2 jam sekali. Pada musim hujan, gunakan pengering buatan dan pertahankan suhu pengering 500 C untuk gabah konsumsi atau 420 C untuk mengeringkan benih. Pengeringan dilakukan sampai kadar air gabah mencapai 12- 14% untuk gabah konsumsi dan 10-12% untuk benih. Gabah yang sudah kering dapat digiling dan disimpan. Hal penting yang perlu diperhatikan dalam penggilingan dan penyimpanan adalah:
1.      Untuk mendapatkan beras kualitas tinggi, perlu diperhatikan waktu panen, sanitasi (kebersihan), dan kadar air gabah (12-14%)
2.      Simpan gabah/beras dalam wadah yang bersih dalam lumbung/gudang, bebas hama, dan memiliki sirkulasi udara yang baik.
3.      Simpan gabah pada kadar air kurang 14% untuk konsumsi, dan kurang dari 13% untuk benih.
4.       Gabah yang sudah disimpan dalam penyimpanan, jika akan digiling, dikeringkan terlebih dahulu sampai kadar air 12-14%. 5. Sebelum digiling, gabah yang dikeringkan tersebut diangin-anginkan terlebih dahulu untuk menghindari butir pecah.




















HASIL DAN PEMBAHASAN
A.Hasil
Pengelolaan Tanah
jetor kepater di sawah - YouTube 
penanaman
 
Pemeliharaan
 
Pemanenan dan pasca panen


DAFTAR PUSTAKA
Lamid, Z. (2011). Integrasi pengendalian gulma dan teknologi tanpa olah tanah pada usaha tani padi sawah menghadapi perubahan iklim. Pusat Informasi Pertanian4(1), 24-28.
Abdurachman, A., Dariah, A., & Mulyani, A. (2008). Strategi dan teknologi pengelolaan lahan kering mendukung pengadaan pangan nasional. Jurnal Litbang Pertanian27(2), 43-49.
Susanto, U., Daradjat, A. A., & Suprihatno, B. (2003). Perkembangan pemuliaan padi sawah di Indonesia. Jurnal Litbang Pertanian22(3), 125-131.
Hadiawati, L. Olah Tanah Minimum Untuk Produksi Padi Lahan Sawah Irigasi Yang Lestari.
Triadiati, T., Pratama, A. A., & Abdulrachman, S. (2012). Pertumbuhan dan efisiensi penggunaan nitrogen pada padi (Oryza sativa L.) dengan pemberian pupuk urea yang berbeda. ANATOMI dan FISIOLOGI20(2), 1-14.