TINJAUAN PUSTAKA
Sawah adalah tanah yang digarap dan diairi untuk tempat menanam padi. Untuk
keperluan ini, sawah harus mampu menyangga genangan air karena padi memerlukan
penggenangan pada periode tertentu dalam pertumbuhannya. Untuk mengairi sawah
digunakan sistem irigasi dari mata air, sungai atau air hujan. Sawah yang terakhir dikenal sebagai sawah tadah hujan,
sementara yang lainnya adalah sawah irigasi. Padi yang ditanam di sawah dikenal
sebagai padi lahan basah (lowland rice).Padi adalah tanaman unik karena
mampu tumbuh di dalam kondisi hidrologi, jenis tanah, iklim yang berbeda, dan
satu satunya tanaman serealia yang tumbuh di lahan basah. Ancaman serius yang
dihadapi budidaya padi adalah semakin menurunnya ketersediaan air.
Bahan pangan terutama
beras sebagian besar diproduksi di lahan sawah beririgasi teknis dengan tingkat
kesuburan tanah cukup tinggi. Karakteristik budi daya padi sawah seperti itu
membatasi peluang peningkatan produksi beras melalui perluasan areal sawah,
karena sempitnya lahan cadangan yang sesuai untuk dijadikan sawah dan makin
ketatnya persaingan penggunaan air dengan industri, pertambangan, rumah tangga,
dan lainnya. Di sisi lain, konversi lahan sawah ke nonpertanian makin sulit
dikendalikan. Selama periode 1979−1999, konversi lahan sawah mencapai 1,63 juta
ha, dan satu juta ha di antaranya terjadi di Pulau JawaOleh karena itu, perlu
upaya lain untuk meningkatkan produksi bahan pangan nasional, salah satunya
adalah dengan mengoptimalkan pemanfaatan lahan kering, baik yang telah menjadi
lahan pertanian maupun yang belum digunakan. Pemanfaatan lahan kering untuk
pertanian sering diabaikan oleh para pengambil kebijakan, yang lebih tertarik
pada peningkatan produksi beras pada lahan sawah. Hal ini mungkin karena ada
anggapan bahwa meningkatkan produksi padi sawah lebih mudah dan lebih
menjanjikan dibanding padi gogo yang memiliki risiko kegagalan lebih tinggi.
Padahal lahan kering tersedia cukup luas dan berpotensi untuk menghasilkan padi
gogo > 5 t/ha (Abdulrachman dkk,2008)
Upaya perakitan varietas
padi di Indonesia ditujukan untuk menciptakan varietas yang berdaya hasil
tinggi dan sesuai dengan kondisi ekosistem, sosial, budaya, serta minat
masyarakat. Sejalan dengan berkembangnya kondisi sosial ekonomi masyarakat,
permintaan akan tipe varietas yang dihasilkan juga berbeda-beda Pembentukan
varietas padi dilakukan dengan menyilangkan beberapa tetua, kemudian dari
turunan persilangan tersebut dipilih tanaman-tanaman yang mempunyai sifat-sifat
yang baik. Persilangan umumnya dilakukan dengan silang tunggal (single cross),
silang puncak (top cross), silang ganda (double cross), dan silang balik (back
cross). Metode pemuliaan yang digunakan di Indonesia sampai dengan tahun
1950-an adalah metode bulk, kemudian beralih kepada metode pedigree (Susanto et
al, 2003)
Padi sawah termasuk jenis
tanaman pangan yang rentan terhadap perubahan iklim dan penyumbang terbesar
emisi gas rumah kaca (GRK) di bidang pertanian. Tanpa olah tanah (TOT)
merupakan salah satu teknologi yang prospektif dikembangkan untuk mengatasi
beberapa kelemahan OTS dan menurunkan GRK dalam pascarevolusi hijau. TOT
dikenal sebagai teknologi olah tanah konservasi (OTK) (conservation tillage)
dan makin populer di negaranegara maju, terutama Amerika Serikat, karena
memiliki beberapa keuntungan, antara lain mencegah erosi, mempertahankan
keanekaragaman biologi, menekan populasi beberapa jenis gulma dan hama
invertebrata, memperbaiki efisiensi penggunaan pupuk, dan meningkatkan
intensitas tanam dan pendapatan (Zainal,2011)
Olah tanah sempurnah
(OTS) merupakan komponen teknologi anjuran dalam program intensifikasi produksi
padi sawah. OTS lebih memudahkan petani dalam melakukan tanam pindah karena
tanah lembek berlumpur, mudah meratakan lahan, mudah mengendalikan gulma,
mengurangi biaya menyiangi, resiko gagal tanam rendah, tanaman padi tumbuh
optimal, dan produksi tinggi. Dibalik berbagai kemudahan tersebut, pelumpuran
dalam OTS secara terus-menerus dapat merusak struktur tanah, pori tanah
terputus/tertutup, dan laju infiltrasi melambat. Lapisan tanah teratas yang
subur mudah mengalami erosi dan hanyut terbawa air irigasi maupun hujan. Lebih
lanjut, OTS yang diikuti dengan praktik membakar sisa tanaman dan tanpa
tambahan pupuk organik, menyebabkan menurunnya kesuburan tanah. Dampak jangka pajang
berupa terjadinya penurunan produktivitas padi sawah, walaupun takaran pupuk
anorganik semakin tinggi. Untuk menjaga kelestarian lahan, alternatif dari OTS
adalah olah tanah minimum (OTM) atau tanpa olah tanah (TOT). Kedua metode
tersebut biasanya dipraktekkan di lahan tadah hujan di NTB dalam sistem
budidaya padi gogo rancah. Berdasarkan berbagai hasil penelitian yang telah
dilakukan, penerapan OTM dan TOT yang benar dilaporkan dapat mempertahankan
hasil seperti OTS, mengurangi biaya produksi, mengurunkan tingkat erosi dan
berbagai bentuk degradasi lahan lainnya, yang kesemuanya menguntungkan bagi
sumber daya alam yang lestar (hadiawati,2009)
Nitrogen (N) merupakan
unsur hara yang paling penting. Kebutuhan tanaman akan N lebih tinggi
dibandingkan dengan unsur hara lainnya, selain itu N merupakan faktor pembatas
bagi produktivitas tanaman. Kekurangan N akan menyebabkan tumbuhan tidak tumbuh
secara optimum, sedangkan kelebihan N selain menghambat pertumbuhan tanaman
juga akan menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan. Pupuk N dalam bentuk urea
sudah menjadi kebutuhan pokok bagi petani padi khususnya di Indonesia karena
dianggap dapat langsung meningkatkan produktivitas sehingga pemborosan dalam
pemakaian urea di petani tidak dapat dihindar Dosis pemberian pupuk yang cukup
tinggi di petani saat ini ada yang mencapai 400−600 kg urea/ha di atas
rekomendasi pemerintah sebesar 200–260 kg urea/ha (Triadiati et al, 2012)
METODE PRAKTIKUM
A.Waktu dan Tempat
Praktikum ini di
laksanakan pada hari minggu, 3 Mei 2020 di Saba rapak Lingkungan.1,kelurahan
Panyanggar, Kecematan Padang Sidimpuan Utara, Kota Padang Sidimpuan
B.Alat
dan Bahan
Adapun
alat yang digunakan pada praktikum ini adalah cangkul, babat, parang dan jetor.
Adapun
bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah pupuk Urea, Zat A, ,TSP dan ZK
C.
Cara Kerja
1.Pengelolaan tanah
Tata cara penglolaan
tanah sawah padi adalah sbb:
1. Areal
sawah di genang dengan air agar tanahnya menjadi lunak
2. Setelah
tergenang menaburkan pupuk kandang sebagai pupuk awal/membuat kolam ikan
sederhana di areal sawah yang tergenang
3. Setelah
1 bulan. Dibuang air genangan, kemudian di bajak menggunakan mesin jetor agar
tanah tidak padat sehingga padi mudah tumbuh
4. Setelah
di bajak di bentuk rumpum berbentuk segi empat di seluruh areal sawah untuk
media penanaman padi
2.Penanaman
Sebelum
melakukan penanaman langkah terlebih dahulu adalah menyiapkan benih dengan cara
:
1.
Memilih bibit yang unggul dan sehat
2.
Kemudian di maskkan bibt ke persemaian
3.
Setelah setekah menjadi semuai kemudian
barulah melakukan penanaman
penanaman di lakukan
dengan menannam langsung ke areal yakni jangan tanam bibit terlalu dalam agar
pertumbuhannya optimal. Penanam di lakukan sejajar dengan jarak tanam 20-25 X
20-25.
3.Pemeliharaan
A.pengairan/irigasi.
Air merupakan syarat mutlak bagi pertumbuhan tanaman padi sawah. Masalah
pengairan bagi tanaman padi sawah merupakan salah satu factor penting yang
harus mendapat perhatian penuh demi mendapat hasil panen yang akan datang.
Air yang dipergunakan untuk pengairan padi di sawah adalah air yang berasal
dari sungai, sebab air sungai banyak mengandung lumpur dan kotoran-kotoran yang
sangat berguna untuk menambah kesuburan tanah dan tanaman. Air yang berasal
dari mata air kurang baik untuk pengairan sawah, sebab air itu jernih, tidak
mengandung lumpur dan kotoran.
Memasukan air kedalam
sawah dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
- Air yang dimasukan ke petakan-petakan sawah
adalah air yang berasal dari saluran sekunder. Air dimasukan ke petakan
sawah melalui saluran pemasukan, dengan menghentikan lebih dahulu air pada
saluran sekunder.
- Untuk menjaga agar genangan air didalam petakan
sawah itu tetap, jangan lupa dibuat pula lubang pembuangan. Lubang
pemasukan dan lubang pembuangan tidak boleh dibuat lurus.
- Hal ini dimaksudkan agar ada pengendapan lumpur
dan kotoran-kotoran yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman. Apabila
lubang pemasukan dan lubang pembuangan itu dibuat lurus, maka air akan
terus mengalir tanpa adanya pengendapan.
Pada waktu mengairi
tanaman padi di sawah, dalamnya air harus diperhatikan dan disesuaikan dengan
umur tanaman tersebut. Kedalaman air hendaknya diatur dengan cara sebagai
berikut :
- Tanaman yang berumur 0-8 hari dalamnya air cukup
5 cm.
- Tanaman yang berumur 8-45 hari dalamnya air dapat
ditambah hingga 10-20 cm.
- Tanaman padi yang sudah membentuk bulir dan mulai
menguning dalamnya air dapat ditambah hingga 25 cm. setelah itu dikurangi
sedikit demi sedikit.
- Sepuluh hari sebelum panen sawah dikeringkan sama
sekali. Agar padi dapat masak bersama-sama.
B. Penyiangan dan Penyulaman
Setelah penanaman, Apabila tanaman padi ada yang mati harus segera diganti
(disulam). Tanaman sulam itu dapat menyamai yang lain, apabila penggantian
bibit baru jangan sampai lewat 10 hari sesudah tanam.
Selain penyulaman yang perlu dilakukan adalah penyiangan agar rumput-rumput
liar yang tumbuh di sekitar tanaman padi tidak bertumbuh banyak dan mengambil
zat-zat makanan yang dibutuhkan tanaman padi. Penyiangan dilakukan dua kali
yang pertama setelah padi berumur 3 minggu dan yang kedua setelah padi berumur
6 minggu. Penyianagan di lakukan dengan membabat rumput liat/gulma dengan
parang/babat
C Pemupukan
Pemupukan bertujuan untuk menambah zat-zat dan unsur-unsur makanan yang
dibutuhkan oleh tanaman di dalam tanah. Untuk tanaman padi, pupuk yang
digunakan antara lain:
- Pupuk alam, sebagai pupuk dasar yang diberikan
7-10 hari sebelum tanaman dapat digunakan pupuk-pupuk alam, misalnya:
pupuk hijau, pupuk kandang, dan kompos. Banyaknya kira-kira 10 ton / ha.
- Pupuk buatan diberikan sesudah tanam, misalnya:
ZA/Urea, DS/TS, dan ZK. Adapun manfaat pupuk tersebut sebagai berikut:
- ZA/Urea : menyuburkan tanah, mempercepat
tumbuhnya anakan, mempercepat tumbuhnya tanaman, dan menambah besarnya
gabah.
- DS/TS : mempercepat tumbuhnya tanaman, merangsang
pembungaan dan pembentukan buah, mempercepat panen.
- ZK : memberikan ketahanan tanaman terhadap hama /
penyakit, dan mempercepat pembuatan zat pati.
D.Pengendalian Hama Dan Penyakit
Hama di Persemaian Basah (untuk padi sawah)
Hama putih (Nymphula
depunctalis)
Gejala : menyerang daun
bibit, kerusakan berupa titik-titik yang memanjang sejajar tulang daun, ulat
menggulung daun padi.
Pengendalian
- Pengaturan air yang baik, penggunaan bibit sehat,
melepaskan musuh alami, menggugurkan tabung daun;
- Penyemprotan insektisida Kiltop 50 EC atau
Tomafur 3G.
Padi trip (Trips oryzae)
- Gejala : daun menggulung dan berwarna kuning
sampai kemerahan, pertumbuhan bibit terhambat, pada tanaman dewasa gabah
tidak berisi.
- Pengendalian : insektisida Mipein 50 WP atau
Dharmacin 50 WP.
Ulat tentara (Pseudaletia unipuncta, berwarna abu-abu; Spodoptera litura, berwarna
coklat hitam; S. exempta, bergaris kuning)
- Gejala : ulat memakan helai daun, tanaman hanya
tinggal tulang-tulang daun.
- Pengendalian: cara mekanis dan insektisida Sevin,
Diazenon, Sumithion dan Agrocide.
Hama di Sawah
Wereng
Wereng penyerang batang
padi : wereng padi coklat (Nilaparvata lugens), wereng padi berpunggung putih
(Sogatella furcifera).
- Merusak dengan cara mengisap cairan batang padi.
Saat ini hama wereng paling ditakuti oleh petani di Indonesia. Wereng ini
dapat menularkan virus.
Gejala : tanaman padi
menjadi kuning dan mengering, sekelompok tnaman seperti terbakar, tanaman yang
tidak mengering menjadi kerdil.
Pengendalian
- Bertanam padi serempak, menggunakan varitas tahan
wereng seperti IR 36, IR 48, IR 64, Cimanuk, Progo dsb, membersihkan lingkungan,
melepas musuh alami seperti laba-laba, kepinding dan kumbang lebah.
- Penyemportan insektisida Applaud 10 WP, Applaud
400 FW atau Applaud 100 EC.
Walang sangit
(Leptocoriza acuta)
Menyerang buah padi yang
masak susu.
Gejala : dan menyebabkan
buah hampa atau berkualitas rendah seperti berkerut, berwarna coklat dan tidak
enak; pada daun terdapat bercak bekas isapan dan buah padi berbintik-bintik
hitam.
Pengendalian
- Bertanam serempak, peningkatan kebersihan,
mengumpulkan dan memunahkan telur, melepas musuh alami seperti jangkrik;
- Menyemprotkan insektisida Bassa 50 EC, Dharmabas
500 EC, Dharmacin 50 WP, Kiltop 50 EC.
Kepik hijau (Nezara
viridula)
Menyerang batang dan
buah padi.
- Gejala : pada batang tanaman terdapat bekas
tusukan, buah padi yang diserang memiliki noda bekas isapan dan
pertumbuhan tanaman terganggu.
- Pengendalian : mengumpulkan dan memusnahkan
telurtelurnya, penyemprotan insektisida Curacron 250 ULV, Dimilin 25 WP,
Larvin 75 WP.
Hama tikus (Rattus argentiventer)
Tanaman padi akan
mengalami kerusakan parah apabila terserang oleh hama tikus dan menyebabkan
penurunan produksi padi yang cukup besar. Menyerang batang muda (1-2 bulan) dan
buah.
- Gejala : adanya tanaman padi yang roboh pada
petak sawah dan pada serangan hebat ditengah petak tidak ada tanaman.
- Pengendalian: pergiliran tanaman, sanitasi,
gropyokan, melepas musuh alami seperti ular dan burung hantu, penggunaan
pestisida dengan tepat, intensif dan teratur, memberikan umpan beracun
seperti seng fosfat yang dicampur dengan jagung atau beras.
Burung
Burung (Silopak,sikodit,silesetdan
burung gereja).
- Menyerang padi menjelang panen, tangkai buah
patah, biji berserakan.
- Pengendalian: mengusir dengan bunyi-bunyian atau
orang-orangan.
Pengendalian Penyakit
Bercak daun coklat
Penyebab: jamur
(Helmintosporium oryzae).
Gejala: menyerang
pelepah, malai, buah yang baru tumbuh dan bibit yang baru berkecambah. Biji
berbercak-bercak coklat tetapi tetap berisi, padi dewasa busuk kering, biji kecambah
busuk dan kecambah mati.
Pengendalian:
- Merendam benih di dalam air panas, pemupukan
berimbang, menanam padi tahan penyakit ini, menaburkan serbuk air raksa
dan bubuk kapur (2:15);
- Dengan insektisida Rabcide 50 WP.
Blast
Penyebab: jamur
Pyricularia oryzae.
Gejala: menyerang daun,
buku pada malai dan ujung tangkai malai. Serangan menyebabakn daun, gelang
buku, tangkai malai dan cabang di dekat pangkal malai membusuk. Proses
pemasakan makanan terhambat dan butiran padi menjadi hampa.
Pengendalian:
- Membakar sisa jerami, menggenangi sawah, menanam
varitas unggul Sentani, Cimandirim IR 48, IR 36, pemberian pupuk N di
saaat pertengahan fase vegetatif dan fase pembentukan bulir;
- Menyemprotkan insektisida Fujiwan 400 EC,
Fongorene 50 WP, Kasumin 20 AS atau Rabcide 50 WP.
Penyakit garis coklat
daun (Narrow brown leaf spot,)
Penyebab: jamur
Cercospora oryzae.
Gejala: menyerang daun
dan pelepah. Tampak gari-garis atau bercak-bercak sempit memanjang berwarna
coklat sepanjang 2-10 mm. Proses pembungaan dan pengisian biji terhambat.
Pengendalian:
- Menanam padi tahan penyakit ini seperti Citarum,
mencelupkan benih ke dalam larutan merkuri;
- Menyemprotkan fungisida Benlate T 20/20 WP atau
Delsene MX 200.
Busuk pelepah daun
Penyebab: jamur
Rhizoctonia sp.
Gejala: menyerang daun
dan pelepah daun, gejala terlihat pada tanaman yang telah membentuk anakan dan
menyebabkan jumlah dan mutu gabah menurun. Penyakit ini tidak terlalu merugikan
secara ekonomi.
Pengendalian:
- Menanam padi tahan penyakit ini;
- Menyemprotkan fungisida pada saat pembentukan
anakan seperti Monceren 25 WP dan Validacin 3 AS.
Penyakit fusarium
Penyebab: jamur Fusarium
moniliforme.
Gejala: menyerang malai
dan biji muda, malai dan biji menjadi kecoklatan hingga coklat ulat, daun
terkulai, akar membusuk, tanaman padi. Kerusakan yang diderita tidak terlalu
parah.
Pengendalian:
merenggangkan jarak tanam, mencelupkan benih pada larutan merkuri.
4. Pemanenan
Lakukan
panen saat gabah telah menguning, tetapi malai masih segar. Potong padi dengan sabit
gerigi, 30-40 cm di atas permukaan tanah. Gunakan plastik atau terpal sebagai
alas tanaman padi yang baru dipotong dan ditumpuk sebelum dirontok. Sebaiknya
panen padi dilakukan oleh kelompok pemanen dan gabah dirontokan dengan power
tresher atau pedal tresher. Apabila panen dilakukan pada waktu pagi hari
sebaiknya pada sore harinya langsung dirontokan. Perontokan lebih dari 2 hari
menyebabkan kerusakan beras.
5.
Pasca panen
Jemur
gabah di atas lantai jemur dengan ketebalan 5-7 cm. Lakukan pembalikan setiap 2
jam sekali. Pada musim hujan, gunakan pengering buatan dan pertahankan suhu
pengering 500 C untuk gabah konsumsi atau 420 C untuk mengeringkan benih.
Pengeringan dilakukan sampai kadar air gabah mencapai 12- 14% untuk gabah
konsumsi dan 10-12% untuk benih. Gabah yang sudah kering dapat digiling dan
disimpan. Hal penting yang perlu diperhatikan dalam penggilingan dan
penyimpanan adalah:
1.
Untuk mendapatkan beras kualitas tinggi,
perlu diperhatikan waktu panen, sanitasi (kebersihan), dan kadar air gabah
(12-14%)
2.
Simpan gabah/beras dalam wadah yang bersih
dalam lumbung/gudang, bebas hama, dan memiliki sirkulasi udara yang baik.
3.
Simpan gabah pada kadar air kurang 14%
untuk konsumsi, dan kurang dari 13% untuk benih.
4.
Gabah yang sudah disimpan dalam penyimpanan,
jika akan digiling, dikeringkan terlebih dahulu sampai kadar air 12-14%. 5.
Sebelum digiling, gabah yang dikeringkan tersebut diangin-anginkan terlebih
dahulu untuk menghindari butir pecah.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.Hasil
Pengelolaan
Tanah
penanaman

Pemeliharaan


Pemanenan dan pasca panen




DAFTAR PUSTAKA
Lamid, Z. (2011). Integrasi pengendalian gulma
dan teknologi tanpa olah tanah pada usaha tani padi sawah menghadapi perubahan
iklim. Pusat Informasi Pertanian, 4(1), 24-28.
Abdurachman, A., Dariah, A., & Mulyani, A.
(2008). Strategi dan teknologi pengelolaan lahan kering mendukung pengadaan
pangan nasional. Jurnal Litbang Pertanian, 27(2),
43-49.
Susanto, U., Daradjat, A. A., & Suprihatno,
B. (2003). Perkembangan pemuliaan padi sawah di Indonesia. Jurnal
Litbang Pertanian, 22(3), 125-131.
Hadiawati, L. Olah Tanah Minimum Untuk Produksi
Padi Lahan Sawah Irigasi Yang Lestari.
Triadiati, T., Pratama, A. A., &
Abdulrachman, S. (2012). Pertumbuhan dan efisiensi penggunaan nitrogen pada
padi (Oryza sativa L.) dengan pemberian pupuk urea yang berbeda. ANATOMI
dan FISIOLOGI, 20(2), 1-14.